De14dotcom – Kongres PSI Super Terbuka yang digelar beberapa waktu lalu di Solo, Jawa Tengah, meninggalkan luka di Sumatera Utara. Sebab, Nezar Djoeli yang menjabat Ketua PSI Sumut harus dicopot karena tak mendukung Kaesang Pangarep.
Mirisnya lagi, Ronald Aristone Sinaga alias Bro Ron yang didukung oleh Nezar Djoeli diangkat menjadi wakil ketua umum jabatan mentereng, sedangkan Nezar Djoeli dicopot.
Hal ini sangat disayangkan oleh Pengamat Politik Muslim Sumatera Utara, Ishlahuddin Panggabean. Menurutnya, peristiwa dicopotnya seorang ketua partai sebenarnya wajar saja.
Namun, lanjutnya, jika pencopotan itu menimbulkan tanda tanya.
“Saya melihat ada dua alasan pencopotan Nezar Djoeli. Pertama, dianggap melawan Ketua Umum terpilih hasil Kongres. Kedua, sudah terjadi transaksional, bisa berupa uang atau materi bisa juga soal elektoral mengambil isu SARA,” ungkap Islahuddin.
Jika diamati gerakan politik PSI di Sumut, lanjutnya, sepertinya dua alasan tersebut menjadi pertimbangan keputusan pencopotan Nezar Djoeli, yaitu tidak membuat Kaesang menang saat Kongres dan Nezar Djoeli terlalu pro pada kelompok Islam Nasionalis di Sumut.
“Sehingga, kelompok non Islam di Sumut dan Medan tidak sepenuhnya menjadi pemilih untuk PSI Sumut. Padahal hasil Pemilu 2024 lalu, menunjukkan PSI menempatkan 10 anggota DPRD nya di kabupaten/kota dan semuanya non Muslim. Maka, keputusan mencopot Nezar Djoeli ini bagus untuk PSI jika mau full meraih suara kelompok non Muslim di Sumatera Utara,” tegas Ishlahuddin Panggabean kepada wartawan di Medan, Rabu (14/1/2026).
Masih menurut Ishlahuddin, saat kongres lalu, semestinya terjadi kompromi dan solidaritas agar sistem e-vote itu benar-benar menjadi idaman pemilih pemula di Indonesia.
“PSI Partai Super Terbuka, udah terbuka pake super lagi. Tapi sepertinya seluruhnya seperti diatur oleh satu kelompok atau satu orang saja. Dan, Nezar Djoeli menjadi korban permainan kongres tersebut. Kalau dulu, PSI bisa menggambarkan harapan dengan banyaknya anak muda yg bebas berekspresi, tapi sekarang, PSI seperti partai agama tertentu di Sumut,” Ishlahuddin, menyayangkan.
Sebagai pengamat politik, Islahuddin menyatakan, sebenarnya pada kongres PSI tersebut harus berterima kasih kepada Nezar Djoeli dan pengurus PSI lalu, karena bisa memenangkan Ronald Aristone Sinaga, sehingga tuduhan kongres PSI “ecek-ecek” jadi terbantahkan dengan menangnya Ronaldo Sinaga di Sumut
“Ya, kalau gak ada Nezar Djoeli yang berani kampanye untuk Bro Ron itu, mana bisa meriah dan mendebarkan kongres PSI waktu itu,” nilai Islahuddin.(cil)*







