Medan – Krisis distribusi BBM yang terjadi akibat banjir besar di sejumlah provinsi Sumatera menuai kritik keras. Publik menilai respons Pertamina lamban dan tidak menunjukkan kesiapan menghadapi situasi darurat. Dampaknya merembet ke berbagai sektor mulai dari penanganan bencana, transportasi, hingga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Pengamat Kebijakan Publik Sumatera Utara sekaligus Dosen FISIP UISU, Raden Deni Atmiral, S.Sos., M.AP, menilai bahwa kejadian ini bukan sekadar kendala teknis di lapangan, melainkan menunjukkan lemahnya fondasi ketahanan energi nasional.
Raden menegaskan bahwa alasan banjir tidak boleh digunakan sebagai pembenaran berulang dari perusahaan sebesar Pertamina.
“Ini bukan hanya masalah supply chain, tetapi masalah governance. Ketahanan energi kita langsung goyah saat bertemu bencana, koordinasi pusat-daerah tidak solid, dan sistem distribusi Pertamina tidak adaptif terhadap mitigasi bencana,” ujarnya kepada media, Selasa, (09/12/2025).
Dampak Berantai: Dari Evakuasi Terhambat hingga Harga Pangan Meroket
Raden menyebut krisis BBM memicu tiga dampak besar yang kini langsung dirasakan masyarakat:
• Penanganan bencana melambat – Perahu mesin, generator, dan logistik darurat bergantung pada BBM, sehingga operasi evakuasi tersendat.
• Transportasi dan ekonomi terguncang – Tarif angkot naik, distribusi pangan terhambat, dan harga komoditas melonjak.
• Kepercayaan publik merosot Kelangkaan BBM selalu meninggalkan akumulasi ketidakpuasan sosial yang berbahaya bagi stabilitas daerah.
Lima Tuntutan Mendesak untuk Pemerintah dan Pertamina
Raden mendesak pemerintah mengambil langkah strategis yang tidak bersifat seremonial. 7 rekomendasi kunci ia sampaikan, yakni:
- Audit Ketahanan Distribusi Energi Nasional
- Memeriksa jalur alternatif, gudang penyangga, serta skenario suplai cepat di wilayah rawan bencana.
- Transparansi Stok dan Pola Suplai Pertamina
- Publik berhak mengetahui bagaimana pengelolaan aset negara di masa krisis.
- Reformasi Total Manajemen Risiko Pertamina
- SOP manual harus diganti dengan sistem berbasis simulasi dan teknologi modern.
- Kolaborasi Distribusi DaruratMelibatkan Pemda serta TNI–Polri agar suplai energi darurat tiba tepat waktu.
Pengawasan Independen
Untuk memastikan evaluasi bukan sekadar formalitas, tetapi koreksi nyata.
“Pertamina adalah simbol strategis negara. Tapi simbol itu runtuh jika lambat, tidak adaptif, dan minim transparansi saat bencana,” tegas Raden.
Banjir Sumatera disebut telah menyampaikan alarm keras mengenai lemahnya kesiapan energi nasional. Kini publik menanti: akankah pemerintah bergerak cepat, atau krisis serupa kembali berulang dan merugikan jutaan warga?







