Akhir tahun lalu, viral obrolan tentang iklan rumah di Pondok Indah yang dijual dengan harga 495 miliar. Netizen yang kebanyakan adalah generasi milenial, menyatakan tidak mungkin mereka bisa membeli rumah itu. Memang, bagi kaum muda kebanyakan, gaji mereka tidak bisa mengimbangi harga properti yang terus meroket.
Disisi lain, generasi muda dianggap tidak bijaksana dalam mengelola uang dan lebih mementingkan gaya hidup. Harga properti terus naik, penghasilan tidak seberapa, tidak heran jika mereka terancam tidak bisa membeli hunian.
Tapi, apakah benar milenial Indonesia tidak bisa beli rumah?
Saat ini, generasi milenial Indonesia nyaris mencapai angka 26% dari total penduduk. Dengan mayoritas berada di usia berumah tangga, mereka pun membutuhkan ketersediaan hunian yang memadai, menjadikan mereka pasar yang menjanjikan bagi sektor properti.
Makin hari, harga makin tinggi karena peningkatan pasokan hunian terjangkau yang juga menantang. Kendalanya adalah ketersediaan lahan murah di perkotaan, dan material bangunan yang mahal.
Generasi muda jaman sekarang susah ya, kalau mau beli rumah sendiri karena harga rumah makin hari makin melejit, dan kemampuan kita membeli semakin lama, semakin turun. Generasi milenial memang berbeda, kedekatan dengan teknologi membuat mereka lebih teredukasi tentang kepemilikan properti, sehingga preferensinya pun cenderung lebih spesifik.
Untuk meraup pasar milenial, developer pun mulai menawarkan produk baru dengan harga lebih terjangkau. Contohnya, mereka cenderung menginginkan hunian yang terkoneksi dengan layanan transportasi yang memudahkan mobilitas harian.
Maka belakangan, semakin banyak pembangunan hunian berkonsep Transit Oriented Development. Preferensi lainnya adalah untuk memiliki rumah yang berbasis teknologi. Konsep micro housing pun lebih banyak dipilih karena harga yang lebih murah.
Namun, tidak berarti semua properti berukuran kecil bisa dijangkau, terutama jika berlokasi di tengah kota.
Jadi sebenarnya, kendala milenial dalam membeli rumah juga karena belum menemukan properti yang cocok. Dari segi keuangan, banyak yang malah yakin bahwa mereka sebenarnya dapat membeli properti. Karena yang sebelumnya memilih untuk bepergian atau belanja, mulai menyadari pentingnya memiliki hunian.
Apalagi sekarang industri perbankan sudah mulai memperluas pasar pembiayaan properti untuk memudahkan generasi milenial membeli hunian.
Bagi bank, generasi milenial merupakan sasaran untuk memacu KPR. Mereka pun mulai bersaing untuk memasarkan produk pembiayaan kepemilikan rumah pertama dengan suku bunga serendah – rendahnya.
Suku bunga acuan yang berada pada angka terendah 3,75% juga turut mendorong bank untuk terus menurunkan suku bunga. Penawaran DP rendah, bunga murah, hingga angsuran terjangkau menjadi kunci utama untuk meraup pasar milenial.
Karena, generasi milenial cenderung memilih angsuran bertenor panjang dan dengan fleksibilitas tinggi.
Banyak bank juga sudah memudahkan proses pembiayaan melalui pengajuan KPR secara online. Meskipun tidak mudah, kepemilikan rumah bagi generasi milenial sebenarnya tidak mustahil, asalkan ada perencanaan yang tepat.
Salah satu langkah finansial yang dilakukan adalah, menabung setiap bulan dari gaji bulanan. Kalau misalhnya sudah punya tabungan 20% dari harga rumah, lebih baik beli rumah dulu.













