Medan — Kinerja PT Bank Sumut kembali menjadi sorotan. Ketua Perkumpulan Masyarakat Demokrasi 14 Sumatera Utara (PD14 Sumut), Muhri Fauzi Hafiz, menilai jajaran direksi bank plat merah itu bekerja dengan pola Asal Bapak Senang (ABS), bukan berbasis transparansi dan akuntabilitas.
Menurut Muhri, indikasi tersebut terlihat jelas saat penyampaian kinerja Bank Sumut hingga September 2025. Ia menilai direksi sengaja tidak memaparkan perbandingan rasio kredit bermasalah (NPL Gross) antara tahun 2025 dengan tahun sebelumnya.
“Dalam siaran pers maupun paparannya, hampir semua indikator dibandingkan dengan capaian tahun lalu. Tapi anehnya, untuk rasio NPL gross justru disembunyikan. Padahal NPL ini salah satu indikator utama untuk mengukur kualitas aset dan kredit,” tegas Muhri kepada wartawan di Medan, Kamis (30/10/2025).
Muhri mengungkapkan, data perbandingan sebenarnya menunjukkan tren memburuk.
Rasio NPL gross Bank Sumut pada September 2022 tercatat 2,76%, 2023 sebesar 2,80%, 2024 turun menjadi 2,42%, namun kembali naik pada 2025 menjadi 2,60%.
Kenaikan ini fakta yang tidak bisa ditutupi. Tapi sayangnya, direksi memilih tampil dengan laporan manis untuk menyenangkan Gubernur Sumut Bobby Nasution,” ujarnya tajam.
Muhri menegaskan, sikap ABS seperti ini tidak boleh dibiarkan karena justru menyesatkan pemegang saham dan publik
Ia mendesak agar Bobby Nasution sebagai pemegang saham pengendali Bank Sumut segera mengevaluasi kinerja jajaran direksi.
“Kalau direksi hanya pandai menyusun laporan yang bagus di atas kertas tapi gagal menjaga kualitas kredit, itu artinya mereka sudah gagal menjalankan fungsi pengawasan dan manajemen risiko. Sudah seharusnya diganti,” tegasnya.













