MEDAN – Memasuki usia ke-11, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terus menunjukkan proses pendewasaan politik yang semakin matang. Setelah melakukan transformasi besar melalui hadirnya lambang baru bergambar gajah simbol kekuatan, kesetiaan, dan kecerdasan, PSI kini kembali membuka ruang pembaruan lewat sapaan baru yang lebih membumi dan dekat dengan masyarakat di daerah.
Ketua DPW PSI Sumatera Utara, HM Nezar Djoeli ST, menyambut positif apa yang disampaikan Ketua Harian DPP PSI Ahmad di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Jumat (21/11/2025).
Penggunaan sapaan yang lebih merakyat dan selaras dengan kearifan lokal. Menurutnya, langkah ini bukan sekadar perubahan gaya komunikasi, melainkan wujud keterbukaan PSI untuk menyatu dengan kultur masyarakat di seluruh penjuru negeri.
“Apa yang disampaikan Ketua Harian DPP PSI Bang Ahmad Ali, di Sulawesi Tenggara, kami di Sumatera Utara menyetujui. Dan hal itu bukan berarti PSI kehilangan ciri khasnya—oh, tidak,” ujar Nezar Djoeli kepada wartawan di Medan, Sabtu (22/11/2025).
Ia menegaskan bahwa sapaan ikonik Sis/Bro tetap dipertahankan, namun tidak menutup ruang bagi penyebutan-sapaan lain yang lebih akrab, sesuai kultur dan kebutuhan komunikasi di daerah masing-masing.
“Silakan sapaan Sis/Bro tetap ada sesuai situasi yang dibutuhkan. Tapi memberi ruang bagi sapaan lokal justru makin membuat PSI dekat dengan rakyat. Ini cara kami hadir lebih hangat,” katanya.
Bagi Nezar, memasuki usia 11 tahun menjadi momentum refleksi bahwa PSI harus terus berubah mengikuti dinamika publik, tanpa meninggalkan semangat solidaritas yang selama ini menjadi identitas partai. Dengan pendekatan komunikasi yang lebih humanis, ia optimistis PSI semakin diterima dan dipercaya di Sumatera Utara maupun secara nasional.
“PSI sudah kuat, lebih matang, dan siap menghadapi pemilu ke depan. Kuncinya tetap: dekat dengan rakyat, menjadi teman bagi semua kalangan,” tandasnya.
Sebelumnya, Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali mengungkapkan bahwa PSI telah sepakat untuk tidak lagi menggunakan sapaan ‘Bro’ dan ‘Sis; dalam kegiatan-kegiatan organisasi.
Ali mengatakan, sapaan tersebut ditinggalkan agar partai berlambang gajah tersebut lebih egaliter dan dekat dengan rakyat.
“Minta maaf, Ketum, lidah saya ini kalau bicara Bro, Sis, agak kaku-kaku. Karena kalau orang tua kita bilang Bro, Sis pasti bingung, apa ini Bro Sis ini?” ujar Ali dalam Rakorwil PSI Se-Sultra di Kendari.










