DENPASAR – Komitmen meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak usia dini terus diperkuat melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Melalui Program Hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026, tim dosen lintas perguruan tinggi menghadirkan inovasi Pojok Stimulasi di Kelurahan Pemecutan, Kecamatan Denpasar Barat, sebagai upaya mendukung optimalisasi perkembangan balita sejak usia dini.
Program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Implementasi Lingkungan Sehat untuk Optimalisasi Tumbuh Kembang Balita di Kelurahan Pemecutan, Denpasar Barat” dilaksanakan selama Mei hingga Agustus 2026 melalui skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP).
Kegiatan ini menyasar keluarga yang memiliki balita, kader Posyandu, serta masyarakat setempat dengan tujuan meningkatkan pemahaman mengenai stimulasi perkembangan anak, deteksi dini keterlambatan tumbuh kembang, pemanfaatan permainan edukatif sesuai usia, hingga penciptaan lingkungan bermain yang sehat.
Kelurahan Pemecutan dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena memiliki sekitar 423 balita dengan dukungan 205 kader PKK, termasuk 27 kader utama yang aktif di sejumlah banjar. Tingginya aktivitas masyarakat perkotaan menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan anak memperoleh stimulasi perkembangan yang optimal di lingkungan keluarga.
Program ini dipimpin oleh Ni Luh Made Reny Wahyu Sari, S.Ft., M.Erg., Ftr. dari Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Dhyana Pura sebagai ketua tim. Ia didampingi Ni Luh Putu Gita Karunia Saraswati, S.Ft., M.Fis., Ftr. dari Program Studi Fisioterapi Universitas Udayana serta dr. Putu Anastasia Kharisma M., Sp.KJ dari Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Universitas Dhyana Pura.
Kolaborasi lintas disiplin tersebut memadukan keahlian di bidang fisioterapi pediatri, stimulasi sensori, tumbuh kembang anak, hingga kesehatan jiwa dan perkembangan anak.
Selama pelaksanaan program, masyarakat mendapatkan edukasi mengenai tahapan perkembangan (milestone) balita, tanda-tanda keterlambatan perkembangan (red flags), pemilihan aktivitas stimulasi sesuai usia, pengelolaan screen time, hingga pentingnya aktivitas bermain sebagai bagian dari proses belajar anak.
Tim juga melakukan pemeriksaan dan screening tumbuh kembang menggunakan Denver Developmental Screening Test (DDST) di sejumlah Posyandu, diikuti praktik sensory play bersama orang tua dan balita. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Banjar Kerandan dan Banjar Busung Yeh Kangin.
Melalui pendekatan tersebut, orang tua tidak hanya memperoleh hasil pemeriksaan perkembangan anak, tetapi juga mendapatkan pendampingan langsung mengenai cara memberikan stimulasi yang tepat melalui aktivitas bermain sederhana yang dapat diterapkan di rumah.
Program turut memperkenalkan konsep sensory play yang menstimulasi tujuh sistem sensori utama, yaitu visual, auditori, taktil, olfaktori, gustatori, vestibular, dan proprioseptif.
Berbagai media permainan sederhana disiapkan agar mudah diterapkan keluarga maupun kader Posyandu secara mandiri. Aktivitas tersebut dirancang berlangsung sekitar 10–15 menit setiap hari sebagai bagian dari rutinitas yang menyenangkan bagi anak.
Selain meningkatkan stimulasi perkembangan, kegiatan ini juga mendorong orang tua mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai dengan menghadirkan alternatif permainan yang aktif, interaktif, dan memperkuat komunikasi antara anak dengan keluarga.
Puncak kegiatan berlangsung pada 6 Agustus 2026 melalui penyerahan Pojok Stimulasi kepada Posyandu di Banjar Kerandan. Serah terima dilakukan bersama Lurah Pemecutan Agus Yudi Kusumajaya, S.STP, kepala lingkungan, kader Posyandu, masyarakat, dan tim pelaksana.
Pojok Stimulasi menjadi inovasi utama dalam program ini karena mengintegrasikan berbagai media permainan yang mendukung perkembangan motorik kasar, motorik halus, kemampuan bahasa, interaksi sosial, serta stimulasi sensori anak.
Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan memperluas fungsi Posyandu yang selama ini identik dengan penimbangan berat dan tinggi badan menjadi pusat edukasi keluarga, deteksi dini perkembangan, sekaligus ruang praktik stimulasi tumbuh kembang balita.
Sebagai bagian dari strategi keberlanjutan, tim pengabdian juga menyerahkan Posyandu Starter Pack yang berisi standar operasional prosedur (SOP) screening DDST, SOP Pojok Stimulasi, materi edukasi, panduan sensory play, format pencatatan perkembangan, formulir tindak lanjut, hingga mekanisme rujukan apabila ditemukan indikasi gangguan perkembangan.
Melalui dukungan Hibah DPPM-Kemdiktisaintek 2026, program ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas kader Posyandu sebagai fasilitator yang mendampingi orang tua dalam memberikan stimulasi perkembangan anak secara berkelanjutan.
Program tersebut sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, kader Posyandu, dan keluarga dalam membangun lingkungan yang sehat dan ramah anak.
Dengan hadirnya Pojok Stimulasi, berbagai praktik baik yang telah diperkenalkan selama program pengabdian tidak berhenti setelah kegiatan selesai, melainkan dapat terus dimanfaatkan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang balita pada masa emas kehidupan mereka.









