Artikel

PRESIDENSIAL ATAU PRESIDIUM? Memilih Desain Kepemimpinan untuk KAHMI Medan

×

PRESIDENSIAL ATAU PRESIDIUM? Memilih Desain Kepemimpinan untuk KAHMI Medan

Sebarkan artikel ini

De14dotcom, Medan – Musda VII MD KAHMI Medan bukan sekadar forum untuk memilih siapa yang akan menjadi pemimpin. Lebih jauh dari itu, Musda adalah momentum menentukan desain organisasi seperti apa yang hendak digunakan untuk membawa KAHMI Medan menghadapi tantangan ke depan.

Karena itu, perdebatan mengenai sistem presidensial versus presidium semestinya tidak berhenti pada persoalan selera politik organisasi, apalagi sekadar pertarungan antarfigur. Pertanyaan yang jauh lebih substantif adalah: sistem mana yang paling memungkinkan organisasi bekerja efektif, memiliki arah yang jelas, mampu mengambil keputusan secara cepat, dan pada akhirnya dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjanya kepada anggota?

PRESIDENSIAL ATAU PRESIDIUM? MEMILIH DESAIN KEPEMIMPINAN UNTUK KAHMI MEDAN

Dalam perspektif desain organisasi, struktur bukan sekadar susunan jabatan. Struktur menentukan bagaimana kewenangan, koordinasi, pengambilan keputusan, dan pertanggungjawaban dijalankan. Karena itu, memilih sistem kepemimpinan sesungguhnya adalah memilih bagaimana organisasi akan bekerja.

Di titik inilah sistem presidensial memiliki keunggulan.

Seorang ketua dengan mandat yang jelas akan memiliki otoritas untuk menetapkan arah, menyusun prioritas, menggerakkan perangkat organisasi, mengambil keputusan, sekaligus mempertanggungjawabkan hasilnya. Garis komando menjadi jelas dan ukuran keberhasilan kepemimpinan relatif lebih mudah dievaluasi.

Berhasil, kita katakan berhasil. Gagal, kita katakan gagal.

Sederhana.

Bahkan, dalam satire organisasi, sistem presidensial memiliki “kelemahan” yang justru menjadi kekuatannya: pemimpinnya tidak terlalu banyak memiliki tempat untuk bersembunyi di balik kata “kolektif”.

Sementara presidium memang menawarkan kolektivitas dan sharing of power. Namun semakin banyak pusat kewenangan, semakin besar pula kebutuhan koordinasi dan potensi lambannya pengambilan keputusan. Yang lebih penting, pertanggungjawaban dapat menjadi tersebar.

Kalau semua menjadi pemimpin, pertanyaannya sederhana:

Siapa sebenarnya yang memimpin?

Dan ketika program tidak berjalan, kita jangan sampai kembali mendengar kalimat klasik:

“Ini keputusan kolektif.”

Akibatnya, semua merasa bertanggung jawab, tetapi tidak selalu jelas siapa yang benar-benar harus mempertanggungjawabkan hasil akhirnya.

Ini bukan persoalan baik atau buruknya orang yang menjalankan sistem presidium. Ini persoalan desain organisasi.

KAHMI Medan tentu membutuhkan kolektivitas, tetapi kolektivitas tidak harus berarti kaburnya otoritas. Kita dapat memiliki kepemimpinan presidensial yang kuat sekaligus tetap kolegial, partisipatif, transparan, dan diawasi oleh mekanisme organisasi.

Dalam manajemen organisasi, prinsipnya sederhana: kewenangan harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab dan evaluasi kinerja.

Karena itu, pemimpin yang diberi mandat besar juga harus siap menerima konsekuensi besar. Program kerja harus memiliki target, indikator, dan hasil yang dapat dinilai.

KAHMI Medan tidak kekurangan orang pintar, berpengalaman, dan memiliki kapasitas. Tantangannya adalah bagaimana seluruh kapasitas tersebut diorganisasikan menjadi kekuatan institusional yang menghasilkan kerja nyata.

Maka Musda VII jangan hanya bertanya, siapa yang akan memimpin?

Kita juga harus bertanya:

Dengan desain organisasi seperti apa KAHMI Medan akan dipimpin?

Jika kita menginginkan kepemimpinan yang memiliki arah jelas, keputusan yang lebih efektif, program yang terukur, serta pertanggungjawaban yang tidak kabur, maka sistem presidensial layak menjadi pilihan.

Sebab organisasi tidak cukup hanya pandai membagi kekuasaan.

Organisasi harus mampu mengubah mandat menjadi kinerja.

Pada akhirnya, sejarah organisasi tidak akan terlalu lama mengingat berapa banyak orang yang duduk dalam sebuah struktur. Sejarah akan mengingat apa yang dikerjakan, apa yang dihasilkan, dan apa yang ditinggalkan.

Karena itu, Presidensial bukan sekadar pilihan sistem. Ia adalah pilihan untuk memperjelas mandat, mempertegas tanggung jawab, mempercepat gerak, dan membuat kepemimpinan KAHMI Medan benar-benar dapat diuji: berhasil atau gagal.

Musda VII harus memilih desain yang membuat KAHMI Medan lebih mudah bergerak, sekaligus lebih mudah mempertanggungjawabkan hasilnya.(*)

Oleh: Farhan Muhaimin, S.Sos.

Ketua Forum Keluarga Alumni HMI FISIP UISU Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *