De14dotcom, DELI SERDANG — Proyek Bendungan Lau Simeme di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, kembali menjadi sorotan publik. Proyek strategis nasional yang mulai dikerjakan sejak tahun 2017 itu hingga kini disebut belum berfungsi optimal sebagaimana tujuan awal pembangunan.
Masyarakat mempertanyakan efektivitas proyek yang nilai anggarannya disebut membengkak dari sekitar Rp1,3 triliun pada tahap perencanaan tahun 2014 menjadi sekitar Rp1,7 triliun, belum termasuk biaya pembebasan lahan warga.

Sejumlah warga menilai sejak awal proyek ini diduga tidak didukung ketersediaan debit air yang memadai untuk memenuhi target operasional bendungan. Akibatnya, berbagai manfaat yang selama ini digaungkan dinilai belum terealisasi maksimal.
Adapun manfaat yang sebelumnya diproyeksikan dari Bendungan Lau Simeme antara lain:
1. Mendukung kebutuhan irigasi pertanian
2. Pembangkit listrik tenaga air
3. Penambahan pasokan air baku untuk PDAM Tirtanadi
4. Pengendalian banjir dan fungsi pendukung lainnya
Namun hingga kini, masyarakat menilai manfaat tersebut belum dirasakan secara nyata. Bahkan, peralatan pembangkit listrik yang telah tersedia di lokasi disebut belum dapat dimanfaatkan.
Selain itu, proyek ini juga disorot karena target penyelesaiannya yang terus mengalami keterlambatan bertahun-tahun.
Warga berharap aparat penegak hukum, termasuk Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, dapat melakukan penelusuran dan evaluasi terhadap perencanaan hingga pelaksanaan proyek tersebut agar penggunaan anggaran negara benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jangan sampai anggaran besar yang mencapai triliunan rupiah justru tidak memberikan hasil sesuai target awal,” ungkap seorang warga yang mengaku telah berulang kali menyuarakan persoalan tersebut.(*)













