Medan – Bank Sumut, perusahaan plat merah milik Pemprovsu tak henti kena berita miring. Setelah mantan Dirut-nya Babay Parid tersangkut kasus perbankan, kini muncul isu karyawan Organik vs pegawai special hire.
Karyawan Organik vs special hire ini menjadi momok. Terlebih soal kesenjangan antara para special hire dengan para pegawai organik Bank Sumut menjadi faktor utama timbulnya keresahan yang selama ini terpendam.
Informasi dihimpun, Kamis 16/10/25, special hire adalah jalur rekrutmen khusus yang menargetkan kandidat dengan pengalaman kerja dan keahlian profesional di bidang tertentu. Kandidat langsung ditempatkan pada posisi yang sesuai dengan keahlian dan kebutuhan organisasi, tidak melalui jalur karier (career path) dan proses seleksinya sangat ketat.
Di PT Bank Sumut sendiri, beberapa special hire menempati posisi pejabat penting. Yang menjadi sorotan adalah special hire yang semula diharapkan bisa meningkatkan performa Bank Sumut, malah menghasilkan output sebaliknya.
Bahkan posisi yang harusnya tidak dibutuhkan keahlian khusus malah diisi oleh special hire, contohnya seperti yang pernah terjadi pada posisi jabatan di divisi Kepatuhan dan Sumber Daya Manusia (SDM).
Anehnya, ada special hire yang kinerjanya dinilai gagal malah ditempatkan ke bidang lainnya, cara ini hampir sama saja dengan perlakukan kepada pegawai organik. Bahkan banyak dari special hire yang pindah-pindah bidang kerja, sangat jauh dari makna special hire itu sendiri.
“Harusnya sebelum membuka lowongan special hire, jabatan tersebut dilelang dulu untuk para pegawai, kalau memang tidak ada yang mampu baru dicari orang luar. Dan prosesnya harus transparan,” ujar seorang pegawai Bank Sumut, Rabu (15/10/2025).
Seperti dilansir harianbisnis.com, muncul dugaan bahwa special hire itu sendiri adalah orang bawaan atau titipan dari jajaran direksi yang berasal dari luar Bank Sumut.
Indikasi itu bisa dilihat dari asal bank mereka. Ada kesamaan perusahaan/bank asal para direksi itu dengan para special hire yang masuk ke Bank Sumut.
Selain special hire, bahkan jajaran direksi Bank Sumut saat ini dari tiga orang, dua di antaranya bukanlah putra asal Sumatera dan bukan berasal dari pegawai Bank Sumut. Yang pertama adalah Direktur Kepatuhan, kedua adalah Direktur Keuangan dan IT.
Sebagai contoh Direktur Keuangan dan IT, Arieta Aryanti. Dia Lahir di Jakarta, 29 Maret 1971 , berdomisili di Jakarta. Dia dinilai tidak fokus kerja karena sering pulang pergi Medan-Jakarta.
Arieta Aryanti yang dikonfirmasi terkait hal ini, enggan buka mulut. Mantan petinggi Bank Danamon itu bahkan belum merespon pesan jejaring yang dikirimkan ke nomor 08116027xxx miliknya.
Lalu, bagaimana performa PT Bank Sumut setelah diisi para direktur dan special hire itu sendiri?
Salah satu yang menjadi pukulan telak adalah kinerja di tahun 2024. PT Bank Pembangunan Daerah Sumatra Utara (Bank Sumut) meraup laba bersih senilai Rp740,72 miliar pada 2024, hanya tumbuh 0,09% secara tahunan (year on year/YoY) dari Rp740,08 miliar.
Pertumbuhan Laba itu jadi yang terparah sepanjang sejarah Bank Sumut. Sangat berbeda jauh dengan masa Gus Irawan yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama Bank Sumut. Kala itu, Gus Irawan berhasil meningkatkan laba dan aset Bank Sumut dengan sangat baik.
Terlebih, Gus Irawan yang merupakan pegawai organik Bank Sumut juga meningkatkan kesejahteraan dan juga perlindungan hukum para pegawainya.











