Bagaimana peran BRICS dalam mempengaruhi dinamika pasar dan nilai tukar mata uang, terutama dalam hubungannya dengan yuan dan Arab Saudi?
Para analis kini meramalkan bahwa mata uang yuan akan semakin populer di dunia jika Arab Saudi bergabung dengan BRICS – sebuah kelompok negara emerging economies yang terdiri dari Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.
Seperti yang kita ketahui, Arab Saudi adalah negara penghasil minyak terkemuka di dunia. Selama ini, kekuatan ekonomi dan politik global dikuasai oleh Barat, terutama Amerika Serikat dan Eropa. Namun, Arab Saudi menunjukkan potensi untuk menjadi pemain kunci di masa depan, terutama setelah putra mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, dilantik sebagai penerus tahta pada 2017.
Kehadiran Arab Saudi di BRICS dapat membawa manfaat besar bagi negara tersebut. Pertama, pangsa pasar Arab Saudi di Asia sangat besar. Dalam hal ini, kerja sama ekonomi dengan India dan China dapat memberikan manfaat besar bagi kedua belah pihak. Selain itu, Arab Saudi dapat menarik investasi dari negara-negara BRICS, yang dapat membantu meningkatkan perekonomian mereka.
Kedua, kehadiran Arab Saudi dapat membantu mengatasi tantangan yang dihadapi oleh BRICS. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok negara emerging economies ini telah mengalami tantangan, terutama terkait dengan masalah ekonomi dan geopolitik. Dengan kehadiran Arab Saudi, kelompok ini akan memiliki kekuatan lebih dan dapat bersatu untuk menghadapi tantangan yang dihadapi.
Dalam hal ini, penggunaan mata uang yuan dapat menjadi kunci utama keberhasilan kehadiran Arab Saudi di BRICS. Seperti yang kita ketahui, China adalah negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia dan mata uang yuan kini sedang naik daun. Dalam beberapa tahun terakhir, China telah melakukan upaya besar-besaran untuk mempromosikan penggunaan yuan sebagai mata uang internasional sebagai alternatif dari dolar AS.
Dalam hal ini, ketika Arab Saudi bergabung dengan BRICS, penggunaan yuan sebagai mata uang utama akan semakin diperkuat. Saat ini, Arab Saudi masih menggunakan riyal, yang tidak sepopuler yuan atau dolar AS. Namun, dengan kehadiran Arab Saudi di BRICS, potensi penggunaan yuan sebagai mata uang internasional akan semakin meningkat.
Sebagai contoh, ketika Rusia bergabung dengan BRICS pada tahun 2001, penggunaan rubel sebagai mata uang transaksi internasional semakin meningkat. Meskipun rubel belum menjadi mata uang yang sangat populer seperti dolar AS atau euro, hal ini menunjukkan bahwa kehadiran Rusia di BRICS memberikan dampak positif bagi penggunaan rubel di pasar internasional.
Demikian pula, penggunaan yuan sebagai mata uang transaksi internasional semakin dipromosikan oleh China. Dalam beberapa tahun terakhir, China telah melakukan upaya besar-besaran untuk memperkuat posisinya di pasar dunia dengan menawarkan kredit dalam yuan, menciptakan pasar modal dalam yuan dan berusaha untuk membuat yuan sebagai mata uang cadangan dunia.
Dengan kehadiran Arab Saudi di BRICS, penggunaan yuan sebagai mata uang utama dapat membantu mempromosikan penggunaan mata uang ini di pasar internasional. Sebagai negara besar penghasil minyak, Arab Saudi dapat mempengaruhi pasar minyak dunia, yang mana baru-baru ini telah mengalami pergeseran besar-besaran di mana pengaruh dolar AS sebagai mata uang perdagangan dunia sedang berkurang.
Dalam hal ini, penggunaan yuan sebagai mata uang internasional dapat membantu mengurangi pengaruh dolar AS di pasar dunia dan mempromosikan diversifikasi mata uang di dunia. Sebagai hasilnya, ini dapat membawa stabilitas ekonomi global.
Dalam kesimpulan, kehadiran Arab Saudi di BRICS dapat membawa manfaat besar bagi negara tersebut, terutama dalam hal meningkatkan perekonomiannya dan membantu mengatasi tantangan yang dihadapi oleh kelompok negara emerging economies ini. Penggunaan mata uang yuan sebagai mata uang utama dapat menjadi kunci utama keberhasilan negara-negara BRICS di masa depan. Ini merupakan kemajuan besar dalam hal diversifikasi mata uang dan dapat membawa dampak positif bagi stabilitas ekonomi global.













