advertisement pasang iklan disini
BeritaMedanNasionalNewsOlahragaPeristiwa

Ranto Sibarani SH : Jeweran Pak Gubernur Tidak Bisa Menjadi Ranah Pidana

Bagikan ke :

Deempatbelas.com,Medan – Terkait penjeweran yang dilakukan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi kepada salah seorang pelatih biliar menuai kritikan dan komentar dari berbagai elemen masyarakat di Indonesia. Namun berbeda hal nya dengan salah seorang pengacara kondang ternama, Ranto Sibarani SH yang menilai, apa yang dilakukan Gubernur merupakan hal yang wajar sebagai pembina di KONI.

Menurut Ranto, sebagai praktisi hukum dirinya melihat Gubernur Sumatera Utara dalam hal ini merupakan pembina atau orang yang bertanggung jawab dan yang menandatangani SK terhadap pengangkatan pengurus KONI di Sumut, salah satu nya cabang olahraga biliar yang notabenenya menggunakan anggaran Provinsi Sumut.

pasang iklan disini

“Artinya Gubernur Sumut Edy Rahmayadi berhak meminta pertanggungjawaban memberikan sangsi dan peringatan kepada siapapun orang yang dibina nya. Dalam hal ini orang yang dijewer itu salah seorang yang juga merupakan orang yang di SK kan dan juga dibina oleh Gubernur. Apalagi dalam olahraga suatu hal yang wajar jika diberikan sangsi hukuman ataupun peringatan kepada seseorang, misalnya di suruh push up, sit up atau lari. “Kata Ranto Sibarani SH. kepada wartawan, Kamis (30/12).

Dalam peristiwa menjewer yang dilakukan Gubernur Sumatera Utara beberapa waktu kemarin dan sempat viral ditonton masyarakat, menurut Ranto hal tersebut karena Gubsu sebagai pembina KONI melihat ada yang tidak semangat.

“Secara konteks hukumnya adalah Gubsu Edy berhak karena dia sebagai pembina olahraga dan juga orang yang menandatangani dan mengeluarkan SK pengangkatan para pengurus cabang olah raga tersebut. “Terangnya.

Lebih lanjut, Ranto menjelaskan, bahwa orang yanvjewer kupingnya tidak bisa dikategorikan sebagai masyarakat biasa. Karena dia (pelatih biliar) adalah orang khusus dan menjadi orang yang dibina Gubernur Sumatera Utara, sehingga hal tersebut harus dibedakan.

“Kalau orang tersebut adalah orang biasa yang diperlakukan seperti itu datang tanpa ada pertanggungjawaban kepada Gubernur, saya rasa sah-sah saja secara hukum ada dampaknya. Namun dalam hal ini saya melihat jeweran pak Edy itu tidak bisa menjadi ranah pidana. Kenapa?, karena orang dijewer itu termasuk orang yang termasuk diminta pertanggungjawaban atas kerja nya. “Katanya.

“Namun malah sebaliknya orang yang dijewer itu terlihat malah meninggalkan pembinanya diatas panggung tanpa ada bicara sepatah katapun sehingga itu menunjukkan sikap tidak terhormat dan tidak pantas dilakukan oleh orang tersebut. “Tutup Ranto.

Sebelumnya diketahui, persoalan Edy dan pelatih Biliar PON ini berawal saat Edy menyampaikan sambutan di acara pemberian tali asih kepada atlet pada Senin (27/12) yang lalu.

Dalam video yang beredar, terlihat Edy awalnya menyampaikan motivasi agar para atlet untuk membawa kejayaan untuk Sumut. Edy mengatakan, jika Sumut sudah berjaya, atlet bisa mengambil apapun yang dia mau.

Pernyataan Edy itu kemudian disambut tepuk tangan seluruh peserta yang hadir dalam kegiatan itu. Namun Edy melihat ada satu orang yang tidak tepuk tangan dan langsung memanggilnya.

Yang pakai kupluk itu siapa? Yang baju kuning. Kau berdiri. Kenapa kau tak tepuk tangan? Sini, sini,” kata Edy dalam video itu.

Edy kemudian menanyakan posisi dia di kegiatan itu. Pria yang dipanggil itu kemudian menjawab bahwa dia adalah pelatih cabang olahraga biliar.

“Pelatih tak tepuk tangan. Tak cocok jadi pelatih ini,” kata Edy sambil menjewer pelatih biliar itu.

Edy kemudian menjelaskan alasannya menjewer pelatih biliar tersebut. Dia mengatakan menjewer sebagai tanda sayang.

“Jewer sayang itu,” ujar Edy saat ditanya soal aksinya itu, Selasa (28/12).

Show More

admin

Deempatbelas.com merupakan salah satu media online di Kota Medan yang beralamatkan di Jalan Armada No.14 Kecamatan Medan Kota. Medan, Sumatera Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button