smsi

Lima Tahun Cetak Generasi Qurani, Pondok Tahfidz Kamboja Luput dari Perhatian Pemerintah

De14dotcom, DELI SERDANG – Di tengah hiruk-pikuk gema Ramadhan, sebuah pemandangan kontras tersaji di Dusun VI Kamboja, Desa Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan. Selama lebih dari lima tahun berdiri, Pondok Tahfidz Kamboja konsisten menjalankan misi langit melalui program tadarus sebulan penuh dan aksi sosial, meski harus berjuang sendirian tanpa sentuhan tangan pemerintah daerah.

Konsistensi di Tengah Keterbatasan

​Memasuki tahun keenam perjalanannya, pondok ini kembali menghidupkan suasana Ramadhan dengan berbagai program unggulan. Mulai dari Tadarus Bersama, penyaluran takjil bertema “Berikan Semampumu, Ambillah Secukupnya”, hingga agenda Buka Puasa Bersama Santri yang rutin digelar setiap hari Sabtu.

​Seluruh operasional ini dijalankan secara mandiri oleh para pendiri yang dipimipin oleh Riki Kurniawan. Tanpa proposal yang memberatkan negara, mereka saling bahu-membahu menanggung biaya secara pribadi demi memastikan lantunan ayat suci tetap bergema di Desa Bandar Klippa.

Sindiran Tajam: “Sekelas Kepala Dusun pun Sulit Hadir

​Namun, di balik keberhasilan membina akhlak generasi muda, terselip kekecewaan mendalam terhadap minimnya atensi birokrasi setempat. Pendiri Pondok Tahfidz Kamboja mengungkapkan fakta miris terkait absennya peran pemerintah dalam mendukung kegiatan religius di wilayah tersebut.

​”Alhamdulillah, hingga 5 tahun 6 bulan ini, belum ada pimpinan daerah yang berkenan singgah. Bahkan, sekelas Kepala Dusun saja pun amat sulit untuk kita hadirkan,” ujar Riki kepada awak media.

​Ia menegaskan bahwa kehadiran pemerintah bukan semata-mata soal bantuan finansial, melainkan bentuk pengakuan dan “belai kasih” orang tua kepada anak-anaknya. Fenomena ini memicu asumsi miring bahwa aparatur negara hanya hadir pada kegiatan yang memiliki finance benefit oriented atau keuntungan finansial semata.

Benteng Terakhir Melawan Narkoba dan Judi Online

​Kehadiran Pondok Tahfidz Kamboja sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi ketahanan sosial Deli Serdang. Fokus utama pondok ini adalah perbaikan akhlak (Akhlakul Karimah) guna memutus mata rantai masalah sosial yang kian mengkhawatirkan.

​”Kami mendampingi anak-anak ini agar 10 tahun ke depan tidak ada lagi generasi yang buta norma agama, menjadi korban narkoba, atau terjerumus judi online (judol). Mestinya pemerintah bersukacita dan mendampingi program seperti ini,” tambahnya lagi.

​Hingga berita ini diturunkan, pihak Kepala Dusun VI hingga Bupati Deli Serdang belum memberikan respons terkait keluhan pengelola pondok. Ketidakhadiran pemerintah dalam ruang-ruang pembinaan moral seperti ini menjadi rapor merah bagi fungsi pengayoman masyarakat di tingkat desa hingga kabupaten.

​Pondok Tahfidz Kamboja telah membuktikan bahwa mereka bisa berjalan tanpa pemerintah. Namun, sebuah daerah yang dipimipin oleh Bupati yang katanya kritis ternyata membiarkan institusi pencetak generasi Qurani berjuang sendirian adalah daerah yang sedang mempertaruhkan masa depan moral generasinya.(cil) *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *