De14dotcom, MEDAN — Kisah asmara jarak jauh antara seorang wanita asal Jakarta dan seorang vokalis asal Medan berinisial F berakhir pilu. Hubungan yang disebut telah dijalani selama bertahun-tahun itu kini menyisakan luka emosional. Sang wanita mengaku mengalami tekanan psikologis setelah berulang kali menerima makian, kata-kata kasar, hingga dugaan ancaman secara verbal dari pria yang selama ini diharapkannya menjadi pasangan hidup.
Dengan suara bergetar dan air mata yang tak terbendung, wanita tersebut menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya. Di balik hubungan yang semula dibangun dengan harapan menuju pernikahan, ia mengaku justru menghadapi perlakuan yang membuat dirinya merasa direndahkan.
Menurut pengakuannya, selama menjalin hubungan jarak jauh antara Jakarta dan Medan, ia telah berulang kali memberikan bantuan kepada F, baik dalam bentuk materi maupun dukungan nonmateri. Namun, ia merasa pengorbanan tersebut tidak sebanding dengan perlakuan yang diterimanya.
“Dibilanglah aku najis, Bang. Dibilang aku hina. Padahal dia aku bantu dari segi materi semuanya, Bang,” ungkap wanita tersebut dengan nada kecewa.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah membantu F ketika pria tersebut hendak membeli telepon genggam di gerai iBox.
“Kemarin pernah dia di iBox karena mau beli iPhone, langsung aku transfer, Bang,” lanjutnya.
Pengakuan itu menjadi salah satu bagian dari cerita yang menurutnya paling menyakitkan. Bukan semata-mata persoalan materi yang telah dikeluarkan, melainkan perasaan bahwa ketulusan dan dukungan yang diberikannya selama hubungan berlangsung justru berujung pada perlakuan yang dianggap merendahkan harga dirinya.
Berulang Kali Mencoba Memperbaiki Hubungan
Wanita tersebut mengaku telah beberapa kali berupaya memperbaiki hubungan. Harapan untuk mempertahankan asmara yang telah berjalan bertahun-tahun membuatnya mencoba membuka ruang komunikasi dan mencari jalan keluar.
Namun, menurut ceritanya, upaya tersebut kerap berakhir dengan pertengkaran dan ucapan kasar.
Harapan untuk dipersunting yang selama ini ia nantikan pun akhirnya kandas. Hubungan jarak jauh yang semula dipertahankan dengan keyakinan akan berujung di pelaminan justru berubah menjadi pengalaman emosional yang menyakitkan.
“Sekarang aku sakit hati, Bang. Seolah-olah aku ini seperti wanita hina dibuatnya,” tuturnya.
Ia juga mengaku keberatan karena sejumlah unggahan di media sosial yang disebut berasal dari F dinilainya membuka keburukan dirinya kepada publik. Menurut wanita itu, persoalan pribadi yang seharusnya dapat diselesaikan secara baik-baik justru menjadi sumber tekanan tambahan.
Bagi dirinya, persoalan tersebut bukan lagi sekadar hubungan asmara yang kandas, tetapi juga menyangkut martabat, privasi, dan dampak emosional yang ia rasakan.
Muncul Dugaan Lain, Perlu Pembuktian
Dalam keterangannya, wanita tersebut turut melontarkan tuduhan terkait cara F memperoleh pekerjaan di salah satu stasiun televisi. Ia menduga terdapat praktik pemberian uang kepada salah seorang pekerja di perusahaan tersebut.
Namun, tuduhan itu belum disertai bukti yang dapat diverifikasi secara independen. Karena itu, kebenarannya belum dapat dipastikan dan memerlukan klarifikasi serta pemeriksaan lebih lanjut dari pihak-pihak terkait.
Terlepas dari persoalan tersebut, pengakuan wanita asal Jakarta ini menyoroti pentingnya menjaga batas dalam hubungan pribadi, termasuk ketika hubungan berakhir dengan konflik.
Makian, penghinaan, ancaman, maupun penyebaran informasi pribadi—jika terbukti terjadi—merupakan persoalan serius yang tidak semestinya dianggap sebagai bagian wajar dari pertengkaran asmara.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik hubungan yang terlihat romantis, bisa saja terdapat persoalan pribadi yang berdampak serius bagi kondisi emosional seseorang. Ketika cinta berubah menjadi konflik, penyelesaian yang sehat seharusnya tetap mengedepankan rasa hormat, perlindungan privasi, dan tanggung jawab atas setiap ucapan maupun tindakan.(cil)*











