Sebagai warga negara Indonesia, pemeluk agama Kristen Protestan, jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), serta Inisiator Konser Perdamaian Dunia (KONPERDA), Sutrisno Pangaribuan Inisiator Konser Perdamaian Dunia (KONPERDA) menyampaikan pandangan dan sikap terkait polemik potongan video ceramah Muhammad Jusuf Kalla yang beredar luas tanpa memenuhi kaidah penyebarluasan konten yang utuh dan proporsional.
Potongan video tersebut telah dijadikan bahan untuk memicu reaksi dari berbagai pihak, yang justru menimbulkan keriuhan di tengah masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, saya menyampaikan sikap sebagai berikut:
- Bahwa video ceramah Muhammad Jusuf Kalla harus dilihat dan dipahami secara utuh, tanpa sentimen, emosi, kebencian, maupun amarah dari kelompok sosial manapun di Indonesia.
- Bahwa Muhammad Jusuf Kalla telah menjelaskan secara langsung bahwa konteks ceramah tersebut merujuk pada konflik bernuansa SARA yang pernah terjadi di Maluku, Maluku Utara, dan Poso.
- Bahwa tidak terdapat materi ceramah yang menista ajaran agama Kristen. Ceramah tersebut justru menggambarkan realitas konflik, di mana korban jatuh dari kedua belah pihak yang berkonflik.
- Bahwa reaksi dari sejumlah pihak—baik ormas, OKP, komunitas, maupun individu—yang mengatasnamakan umat Kristen Indonesia, tidak dapat dianggap mewakili suara dan aspirasi umat Kristen Indonesia secara keseluruhan. Reaksi berupa kecaman, ancaman, dan ujaran kebencian justru memperkeruh situasi.
- Bahwa secara umum, representasi umat Kristen di Indonesia berada pada Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia, sementara umat Katolik diwakili oleh Konferensi Waligereja Indonesia. Oleh karena itu, reaksi di luar itu merupakan bagian dari dinamika yang tidak mewakili keseluruhan umat.
- Bahwa apabila terdapat kekeliruan dalam materi ceramah, diharapkan Muhammad Jusuf Kalla dapat berdialog dengan PGI, PGPI, dan KWI, sehingga polemik dapat diselesaikan secara bijak dan bermartabat.
- Bahwa inti ajaran Kristus adalah kasih kepada Tuhan dan sesama manusia. Dengan meneladani ajaran tersebut secara utuh, umat Kristen seharusnya menjadi pembawa damai, bukan sebaliknya.
- Bahwa dunia yang sedang diliputi kecemasan membutuhkan kedamaian. Oleh karena itu, seluruh warga negara Indonesia harus mampu saling memahami, menghargai, dan menerima perbedaan.
- Bahwa dalam waktu yang berdekatan, bangsa Indonesia telah merayakan Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah. Ketiga momen tersebut menegaskan pentingnya nilai kasih, persaudaraan, saling memaafkan, dan solidaritas lintas batas.
- Bahwa Muhammad Jusuf Kalla sebagai tokoh bangsa, mantan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, yang kini berusia lanjut, tidak memiliki niat untuk menciptakan kegaduhan di ruang publik. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak reaktif dalam menafsirkan pernyataannya.
Demikian pernyataan ini disampaikan sebagai bentuk komitmen terhadap terwujudnya Indonesia yang damai, tanpa kebencian, kekerasan, dan pertikaian.
Medan, 12 April 2026
Sutrisno Pangaribuan
Inisiator Konser Perdamaian Dunia (KONPERDA)







