Laporan Polisi dari sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) berbasis Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) terhadap Wakil Presiden ke- 10 dan ke- 12, Muhammad Jusuf Kalla tidak mewakili siapapun, kecuali kelompok, diri para pelapor sendiri. Maka yang keberatan terhadap potongan video ceramah Muhammad Jusuf Kalla hanya nama- nama yang namanya tertera dalam laporan polisi tersebut dan rombongannya.
Hingga para pelapor menunjukkan laporan polisinya ke publik di depan kamera para wartawan, tidak ada seorang pun warga negara biasa, penganut agama Kristen Protestan maupun Katolik (yang bukan elit Ormas) yang keberatan dengan membuat laporan polisi di salah satu Polsek, Polres, Polda, atau Mabes Polri. Maka dengan demikian ditemukan fakta, bahwa gerakan lapor rame- rame tersebut adalah gerakan elit dan bermotif politik, bukan gerakan umat, rakyat.
Oleh karena aksi lapor- lapor tersebut dilakukan oleh elit, maka dapat dipastikan tidak berpengaruh terhadap apapun. Umat Kristen Indonesia tidak terpengaruh pada potongan video pernyataan Muhammad Jusuf Kalla. Umat Kristen Indonesia sebagaimana warga negara Indonesia lainnya justru resah atas kondisi ekonomi akibat krisis politik global yang telah berpengaruh terhadap Indonesia.
Nilai tukar rupiah yang terus melemah (1USD= Rp 17.105) pada penutupan di pasar spot, Senin (13/04/2026) jauh lebih meresahkan dari potongan video ceramah Ketum PMI yang dipolitisasi. Maka yang seharusnya dilakukan kelompok ormas yang gemar lapor- lapor tersebut adalah membantu pemerintah. Apalagi para pimpinan ormas pelapor tersebut juga bagian dari pimpinan Parpol di koalisi pemerintah. Selain pimpinan Parpol, para pimpinan ormas pelapor tersebut juga tercatat sebagai komisaris di perusahaan (anak perusahaan) BUMN/ Danantara.
Perang antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat, mempengaruhi harga minyak dunia, termasuk meningkatnya harga plastik adalah ancaman nyata terhadap Indonesia. Maka yang seharusnya dilakukan oleh elit ormas Kristen yang mengklaim meneladani Kristus adalah membantu pemerintah, gotong royong dalam menghadapi sejumlah ancaman krisis jika perang terus berlanjut.
Sebagai warga negara Indonesia penganut agama Kristen Protestan, maka tidak ada Ormas, kelompok sosial masyarakat yang berhak mewakili sikap dan aspirasi saya, pun warga Kristen lainnya. Maka tidak boleh ada Ormas yang mengatasnamakan suara atau aspirasi umat Kristen, terlebih dalam urusan politisasi potongan video Muhammad Jusuf Kalla. Jika ingin melapor ke Polri, lebih baik membuat laporan atas nama diri sendiri tanpa menarik- narik Ormas Kristen.
Pimpinan Ormas Kristen perlu belajar agar tidak gegabah, grasa grusu hanya demi memanfaatkan momentum. Suara, aspirasi, aksi harus didasari oleh keputusan bersama dalam organisasi, bukan sekedar reaksi dangkal yang sarat dengan kepentingan pribadi maupun kelompok. Berhentilah berdiri di atas klaim sepihak terhadap kepentingan umat, terlebih kepada Ormas Kristen yang tidak pernah diberi mandat oleh umat dalam menyampaikan suara dan aspirasi umat Kristen.
Medan, Selasa (14/04/2026)
Sutrisno Pangaribuan
Inisiator Kongres Perdamaian Dunia (Konperda)







