Bagaimana pemerintah AS merespon potensi penghindaran Arab Saudi terhadap dolar AS?
Pertumbuhan ekonomi global seiring dengan nilai tukar mata uang utama telah menjadi isu yang selalu diikuti oleh banyak pihak dari berbagai belahan dunia. Tak jarang, sebuah perubahan atau keputusan kecil mengenai mata uang ini juga dapat mempengaruhi pasar global secara signifikan. Hal ini tak lepas dari banyak negara atau lembaga keuangan utama yang menggunakan mata uang dolar AS sebagai alat tukar utama dalam perdagangan internasional mereka.
Baru-baru ini, sebuah laporan menarik datang dari seorang profesor finansial asal Iran mengenai kemungkinan Arab Saudi meninggalkan penggunaan dolar AS. Pengungkapan ini cukup mengejutkan banyak pihak, mengingat Arab Saudi merupakan salah satu pengguna terbesar dolar AS di dunia. Namun, menurut profesor tersebut, perubahan ini tidaklah di luar kemungkinan, bahkan dapat terjadi dalam waktu yang cukup dekat.
Menurut Profesor Mohammad Hassan Khani, seorang pakar finansial dari Universitas Isfahan, Iran, Arab Saudi memiliki potensi untuk meninggalkan penggunaan dolar AS untuk beberapa alasan penting. Salah satunya adalah kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat, terutama di tengah maraknya ketegangan politik dan sanksi ekonomi yang ditimpakan pada Iran oleh Amerika Serikat.
Menurut Profesor Khani, menghindari penggunaan dolar AS dapat memungkinkan Arab Saudi untuk mengurangi dampak sanksi Amerika Serikat pada ekonomi mereka, terutama di tengah upaya pengembangan ekonomi baru dan diversifikasi. Selain itu, penarikan Saudi dari penggunaan dolar AS juga dapat memberikan kesempatan bagi negara ini untuk mengembangkan mata uang regional mereka sendiri, yang dapat meredakan risiko ketidakstabilan finansial yang dapat terjadi pada mata uang asing yang dipengaruhi oleh dinamika global yang tidak dapat dikendalikan.
Sementara masih ada banyak spekulasi mengenai kemungkinan ini terjadi, namun beberapa tanda-tanda positif telah terlihat, termasuk pengakuan Arab Saudi terhadap yuan Cina sebagai alat tukar utama dalam bisnis dan transaksi mereka, serta peningkatan hubungan ekonomi dengan Rusia. Meskipun saat ini penggunaan dolar AS masih menjadi alat tukar utama dalam perdagangan dunia, beberapa negara telah mengekspresikan keinginan untuk diversifikasi mata uang, terutama dalam kaitannya dengan kebijakan politik Amerika Serikat yang berubah-ubah.
Adapun implikasi dari kemungkinan ini terjadi, tentu saja sangat signifikan terhadap perekonomian global dan pasar keuangan. Meskipun masih belum jelas bagaimana dampaknya terhadap Amerika Serikat, namun pengurangan penggunaan dolar AS dapat memengaruhi kekuatan ekonomi dan keuangan Amerika Serikat, terutama jika negara-negara lain mengikuti jejak Arab Saudi dan mulai mempertimbangkan alternatif lain selain dolar AS. Selain itu, penggunaan mata uang regional atau alternatif tersebut dapat menimbulkan biaya dan risiko yang tinggi dalam bertransaksi, terutama jika penggunaan mata uang ini belum diatur atau diakui oleh berbagai pihak terkait.
Meskipun saat ini masih menjadi spekulasi, namun kemungkinan ini menunjukkan adanya pentingnya untuk beradaptasi dan mengantisipasi perubahan terhadap dinamika ekonomi global. Dalam era globalisasi, penggunaan mata uang sebagai alat tukar utama tidaklah dapat dipandang sebelah mata, terutama jika kebijakan politik suatu negara dapat berdampak pada perdagangan dan stabilitas finansial. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk mengembangkan alternatif dan diversifikasi mata uang, yang dapat memungkinkan jangkauan bisnis yang lebih luas dan meningkatkan stabilitas keuangan global.












