MEDAN – kejahatan dan konservasi narkoba di Kota Medan dinilai telah mencapai titik kritis yang menjamin stabilitas sosial dan masa depan generasi muda, bahkan pada masa jangka panjang juga menjadi ancaman bagi pencapaian Indonesia Emas 2045. Menanggapi situasi tersebut, Muhri Fauzi Hafiz, Ketua Perkumpulan Masyarakat Demokrasi 14 Sumatera Utara (PD -14 Sumut), meminta aparat penegak hukum (APH) khususnya jajaran Polrestabes Medan di bawah kepemimpinan Kapolrestabes Kombes Jean Calvijn Simanjuntak, agar menyatakan tegas, tanpa kompromi melakukan penindakan atas kejahatan yang mencakup narkoba di wilayah hukum Polrestabes Medan.
Saat ditemui awak media di kantor sekretariatnya, di Medan, Jumat (26/12/2025), Muhri Fauzi Hafiz, menegaskan bahwa ketegasan aparat kepolisian merupakan harga mati dalam memutus rantai peredaran gelap narkotika.
“Kita prihatin jika ada penindakan awalnya kita pikir judulnya besar namun ternyata menyasar pemain kecil, pengedar di tepi kota, bukan sosok yang disebut bandar, penindakan seperti ini harus ditinggalkan,” tegas Muhri Fauzi Hafiz.
Masih dalam keterangannya, Muhri Fauzi Hafiz menambahkan bahwa langkah berani yang telah ditunjukkan oleh Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, pastinya akan menjadi harapan baru bagi masyarakat yang mendambakan perubahan nyata.
Perang Melawan Struktur dan Jaringan atas kejahatan dan cerobong asap ini, dalam analisisnya, disebut Muhri memang harus ditangan pihak Kepolisian.
“Jaringan narkoba di Medan saat ini, sangat terorganisir dan sering kali “hidup kembali” meski telah dilakukan penertiban. Kemampuan taktis menyelesaikan masalah ini dominan dimiliki pihak kepolisian,” ujar Muhri.
”Ini bukan sekedar rutinitas penegakan hukum, melainkan pernyataan perang. Jika pola lama tetap dibiarkan, narkoba akan selalu memilih di depan aparat. Keberanian Kapolrestabes Medan untuk menyasar struktur dan jaringan adalah titik balik yang krusial,” ujar Muhri dalam keterangannya.
Dukungan Publik Bukan “Cek Kosong”
Sebagai Ketua Perkumpulan Masyarakat PD -14 , Muhri mencatat adanya dukungan gelombang dari tokoh masyarakat dan unsur sipil terhadap langkah tegas Polrestabes Medan. Namun ia mengingatkan bahwa dukungan tersebut merupakan amanat yang harus dijawab dengan konsistensi.
Beberapa poin utama yang ditekankan dalam menjaga momentum pemberantasan narkoba adalah:
Tanpa Pandang Bulu : Penegakan hukum tidak boleh memberikan ruang abu-abu atau celah kompromi bagi siapa pun.
Keberanian Berkelanjutan: Operasi tidak boleh berhenti saat sorotan media meredup; pemberantasan harus menjadi agenda tetap yang tidak terputus.
Integritas Menghadapi Resistensi: Aparat diminta tetap tegak meskipun tekanan muncul dari berbagai arah saat mulai menyentuh simpul-simpul besar jaringan narkoba.
Harapan bagi Kota Medan
Muhri menegaskan bahwa biaya sosial akibat pembiaran narkoba jauh lebih mahal dibandingkan risiko politik dari penindakan tegas. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya mengapresiasi, tetapi juga aktif mengawal kinerja kepolisian agar ketegasan yang ada tidak sekadar menjadi formalitas.
”Medan tidak butuh slogan, Medan butuh tindakan. Jika hari ini aparat memilih untuk tidak berkompromi, maka masyarakat harus berdiri di barisan yang sama. Diam adalah bentuk kekalahan,” tutupnya. (cil)












