Medan

Diduga Lemahnya Koordinasi dan Minimnya Fasilitas, Malam Pesona Budaya Batu Bara di PRSU Tuai Sorotan

×

Diduga Lemahnya Koordinasi dan Minimnya Fasilitas, Malam Pesona Budaya Batu Bara di PRSU Tuai Sorotan

Sebarkan artikel ini

De14dotcom, Medan – Malam Pesona Seni dan Budaya Kabupaten Batu Bara yang digelar di Panggung Utama Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), Selasa malam (21/07/2026), memang berhasil menarik ribuan pengunjung melalui penampilan seni budaya Melayu dan atraksi debus. Namun, di balik kemeriahan tersebut, pelaksanaan acara justru menuai berbagai kritik dari masyarakat.

Diduga, ribuan pengunjung yang hadir berasal dari Kabupaten Batu Bara dan kehadiran mereka dikondisikan melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Batu Bara bersama para kepala desa. Meski demikian, besarnya jumlah masyarakat yang hadir tersebut justru tidak diimbangi dengan kesiapan fasilitas dasar bagi para pengunjung.

DIDUGA LEMAHNYA KOORDINASI DAN MINIMNYA FASILITAS, MALAM PESONA BUDAYA BATU BARA DI PRSU TUAI SOROTAN

Sorotan utama tertuju pada tidak terlihatnya satu pun Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang hadir dalam kegiatan tersebut. Padahal, PRSU merupakan agenda yang berkaitan dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai sejauh mana koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Batu Bara dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam penyelenggaraan acara tersebut.

Ketiadaan perwakilan OPD Pemerintah Provinsi semakin memicu berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi dari Pemerintah Kabupaten Batu Bara maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengenai alasan tidak terlihatnya kehadiran OPD Provinsi dalam kegiatan tersebut.

Selain persoalan koordinasi, penyelenggaraan acara juga dikritik karena dinilai minimnya pelayanan panitia penyelenggara terhadap pengunjung khususnya pengunjung. Ribuan masyarakat yang memadati Panggung Utama PRSU disebut tidak mendapatkan fasilitas air minum dari panitia.

Sejumlah pengunjung mengaku kecewa karena harus menahan haus selama acara berlangsung. Menurut mereka, penyediaan air minum merupakan kebutuhan dasar yang seharusnya telah diperhitungkan oleh panitia, terlebih acara tersebut dihadiri ribuan orang.

“Kami datang jauh-jauh untuk menghadiri acara ini. Namun panitia tidak menyediakan air minum sehingga banyak pengunjung merasa kehausan,” ungkap Udin salah seorang pengunjung.

Ironisnya, di tengah kemeriahan pertunjukan dan tingginya antusiasme masyarakat, hal mendasar seperti kenyamanan dan pelayanan terhadap pengunjung justru dinilai luput dari perhatian penyelenggara. Apabila benar ribuan masyarakat telah dikoordinasikan untuk menghadiri kegiatan tersebut, maka semestinya kesiapan fasilitas pendukung, termasuk penyediaan air minum, telah menjadi bagian dari perencanaan panitia.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Batu Bara menghadirkan berbagai pertunjukan budaya, mulai dari Tari Persembahan Melayu hingga atraksi debus dari Nibung Hangus yang menjadi pusat perhatian ribuan penonton. Atraksi tersebut memperlihatkan kekayaan budaya Melayu sekaligus menjadi ajang promosi potensi pariwisata Kabupaten Batu Bara.

Acara turut dihadiri Bupati Batu Bara Dr. H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si., C.L.A., Wakil Bupati Syafrizal, S.E., M.AP., anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara Ahmad Hadian dan Yahdi Khoir, unsur Forkopimda, Pj. Sekretaris Daerah, para kepala OPD Kabupaten Batu Bara, Ketua TP PKK Kabupaten Batu Bara Ny. Henny Heridawaty Baharuddin, Staf Ahli TP PKK Kabupaten Batu Bara Ny. Leli Syafrizal, serta para guru besar asal Kabupaten Batu Bara.

Dalam sambutannya, Bupati Baharuddin Siagian menyampaikan bahwa PRSU merupakan momentum untuk memperkenalkan identitas seni dan budaya sekaligus mempromosikan potensi pariwisata Kabupaten Batu Bara. Ia juga mengapresiasi ribuan masyarakat yang hadir dan menyatakan kekompakan masyarakat menjadi modal penting menuju Kabupaten Batu Bara Bahagia.

Meski demikian, antusiasme masyarakat yang begitu besar seharusnya menjadi perhatian serius bagi penyelenggara agar diimbangi dengan pelayanan dan fasilitas yang memadai. Evaluasi menyeluruh dinilai penting dilakukan, baik terkait koordinasi antarlembaga maupun kesiapan teknis di lapangan, sehingga kegiatan serupa tidak hanya sukses secara seremoni, tetapi juga memberikan kenyamanan bagi masyarakat sebagai pihak yang paling merasakan langsung jalannya acara.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak panitia penyelenggara maupun Pemerintah Kabupaten Batu Bara belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan ribuan masyarakat yang dikoordinasikan melalui OPD dan kepala desa, keluhan minimnya fasilitas air minum, maupun mengenai tidak terlihatnya kehadiran OPD Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam kegiatan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *