smsi

Saham atau Emas Mana yang Lebih Menguntungkan

Seandainya 13 juta rupiah tadi dibelikan saham Bank BCA kamu akan dapet 7500 lembar saham Bank BCA! Ngomong-ngomong, ini udah Saya sesuaikan ya dengan harga saham Bank BCA sebelum stock split. Dan ketentuan Bursa Efek yang waktu itu di tahun 2012 1 lot nya masih 500 lembar. Intinya uang 13 juta itu bisa beli 7500 lembar saham Bank BCA, karena 1 lembarnya di tahun 2012 itu harganya Rp1,160 per lembar. Rp1,160 x 7500 lembar berarti kamu harus mengeluarkan uang 12.075.000 rupiah. Jadi 13 juta tadi masih ada kembalian tuh.

Nah sekarang, jadi berapa sih 12jt itu dalam jangka waktu 10 tahun? Jawabannya adalah jadi 60 juta rupiah! Kenapa bisa jadi 60 juta? Karena 1 lembar saham Bank BCA, saat ini harganya bukan lagi Rp1,610 per lembarnya. Melainkan udah jadi Rp8,000 per lembar.

7500 lembar dikali Rp8,000 yaa hasilnya adalah 60 juta rupiah. Dari 12 juta 75 ribu, jadi 60 juta, berarti kalau kamu jual 7500 lembar saham Bank BCA itu, maka kamu akan dapet selisih keuntungan bersih 47,9 juta rupiah Lumayan banget kan? Hehe.

Coba kita review lagi ya.

Opsi pertama yang dibelikan emas dalam 10 tahun kamu bisa dapet untung bersih 9 jutaan dengan catatan kalau emas 22.7 gram tadi dijual semuanya.
Opsi kedua yang dibelikan saham Bank BCA dengan rentang waktu yang sama menghasilkan keuntungan bersih 47,9 juta rupiah,

lagi lagi dengan catatan kalau kamu memutuskan untuk jual juga semua saham Bank BCA yang kamu punya.

Dari sini aja udah mulai keliatan ya bahwa saham lebih menguntungkan dalam jangka panjang. Terutama saham yang kinerja perusahaannya baik.

Nah kamu sadar gak sih, keuntungan 9 jutaan dari emas dan 47,9 jutaan dari saham Bank BCA ini hanya bisa terjadi ketika kamu menjual barangnya. Kalau gak dijual? Ya gak dapet keuntungan.

Iya nggak?

Emas 22.7 gram kamu, kalau nggak dijual ya nggak dapet untung.

Saham juga begitu, kalau saham Bank BCA nya gak dijual, ya… nggak dapet keuntungan.

 

Tapi yang harus kamu inget adalah: Saham bisa menghasilkan keuntungan dengan 2 cara yaitu:

Satu: dari selisih harga beli dan harga jual atau yang biasa kita sebut dengan istilah capital gain.
Dua: dari Dividen, alias sebagian laba bersih yang dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan.

Selama 10 tahun berjalan dari 2012-2022, emas itu nggak bisa memproduksi apa apa.

Emas 22.7 gram yang kamu beli tahun 2012 kan nggak akan jadi 23 gram di tahun 2022. Mau kamu punya emas 1 ton juga di rumah, nggak bakalan beranak itu emasnya. Lain halnya dengan saham.

Membeli saham artinya kita membeli kepemilikan dari perusahaan. Ketika kita adalah pemilik dari perusahaan, kita berhak dong atas sebagian laba bersih yang diperoleh perusahaan Yang dinamakan sebagai dividen. Bank BCA, selama 2012-2022 sekarang, setiap tahunnya BCA ini menghasilkan keuntungan bersih alias laba bersih. Gede lagi labanya.

Dan sebagian dari laba bersihnya setiap tahun dibagikan nih kepada para pemegang saham yang disebut dividen. Contohnya gini.. Laba bersih Bank BCA tahun 2012 adalah 11,7 triliun rupiah. Terus perusahaan memutuskan untuk membagikan 24% dari laba bersih tahun 2012 kepada para pemegang sahamnya. Yang berarti ada sekitar 2,81 triliun rupiah yang siap dibagikan. Nah 2,81 triliun ini dibagikan secara adil dan merata ke 123 milyar lembar saham yang ada. Berarti 1 lembar saham Bank BCA berhak atas dividen 23 rupiah.

Nah karena kamu punya 7500 lembar, berarti kamu berhak atas keuntungan 171.750 rupiah yang dibagikan di tahun 2013. Adilkan?

Makanya dari sini kita bisa simpulkan bahwa emas itu aset yang nggak produktif, sedangkan saham adalah aset yang produktif.

Tapi inget ya, saham dari perusahaan yang berkinerja baik!.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed