smsi

HARI: Umat Islam Harus Bersatu Lawan AS–Israel

De14dotcom, MEDAN – Himpunan Aktivis Republik Indonesia (HARI) menyatakan mencakup secara mendalam perkembangan serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dinilai terus meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Ketua Umum HARI, Bachtiar SH mengatakan, situasi yang terus memanas menunjukkan bahwa jalur militer masih lebih dominan dibandingkan pendekatan diplomasi, sehingga berisiko memperluas konflik dan menyeret negara-negara lainnya ke dalam pusaran ketidakstabilan regional.

Serangan gabungan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dilaporkan terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026, ketika kedua negara melancarkan operasi militer yang menargetkan sejumlah lokasi strategi di wilayah Iran.

Laporan media internasional menyebutkan serangan dilakukan sebagai operasi militer terkoordinasi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, dengan ledakan dilaporkan terjadi di beberapa titik, termasuk ibu kota Teheran.

Data korban masih terus berkembang dan berbeda menurut sumber, namun sejumlah laporan awal mencatat:

Sedikitnya 57 orang tewas dan 60 siswa terluka setelah serangan udara menghantam sebuah sekolah dasar putri di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan.

Korban terdiri dari anak-anak usia sekolah, dengan laporan menyebut para korban berusia sekitar 7–12 tahun.

Selain di Iran, terdapat laporan korban di negara lain di kawasan, termasuk satu korban meninggal di Uni Emirat Arab dan dua korban di Irak akibat dampak konflik yang meluas.

Beberapa laporan media juga menyebut angka korban dapat meningkat karena proses evakuasi dan pendataan masih berlangsung di lokasi serangan.

Situasi Masih Berkembang

Serangan ini disebut mendorong kawasan Timur Tengah ke fase konflik baru, dengan ketegangan regional meningkat dan sejumlah negara terdampak dalam status siaga keamanan

Iran kemudian dilaporkan melakukan balasan militer, termasuk peluncuran rudal ke arah wilayah Israel, menandai eskalasi yang berpotensi meluas.

Ringkasan Fakta Utama (Per 28 Februari 2026)

Tanggal serangan: Sabtu, 28 Februari 2026.

Pihak yang terlibat: Operasi gabungan militer AS dan Israel melawan Iran.

Lokasi Terdampak: Beberapa wilayah Iran, termasuk Teheran dan Hormozgan.

Korban awal dilaporkan: ±40 orang tewas dan puluhan luka-luka, sebagian besar dari kejadian serangan ke sekolah.

Status: Konflik masih berlangsung dan jumlah korban berpotensi bertambah.

Menurut Bachtiar, perkembangan serangan dan aksi balasan yang terjadi telah menimbulkan kekhawatiran global, terutama terhadap potensi krisis kemanusiaan, terganggunya keamanan sipil, serta ancaman terhadap stabilitas ekonomi dan politik internasional.

“Konflik yang terus bereskalasi ini bukan hanya persoalan antarnegara, namun sudah menyentuh rasa keadilan dan kemanusiaan dunia. Oleh karena itu, umat Islam harus bangkit menyuarakan perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan,” ujarnya.

Momentum Ramadhan dan Solidaritas Umat

Bachtiar menilai, meningkatnya ketegangan yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan menambah beban psikologis umat Islam di berbagai negara. Ramadan yang seharusnya menjadi masa refleksi spiritual dan penguatan nilai kemanusiaan justru dibayangi kekhawatiran akibat konflik bersenjata.

Bachtiar menegaskan, kebangkitan yang dimaksud bukan dalam bentuk konfrontasi, melainkan memperkuat solidaritas kemanusiaan, doa bersama, bantuan sosial, serta dorongan moral kepada komunitas internasional agar menghentikan kekerasan.

“Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Dunia seharusnya menahan diri, bukan mempertontonkan kekuatan militer,” katanya.

Risiko Kemanusiaan dan Polarisasi Global

Bachtiar juga mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan berpotensi menimbulkan dampak luas bagi masyarakat sipil, termasuk terganggunya akses terhadap kebutuhan dasar, meningkatnya jumlah pengungsi, serta munculnya ketegangan sosial akibat polarisasi opini publik di berbagai negara.

Selain itu, eskalasi konflik yang dinilai dapat memicu sentimen yang memperdalam perpecahan jika tidak diimbangi dengan narasi perdamaian dan langkah diplomasi yang serius dari para pemimpin dunia.

Dorong Kembali ke Jalur Diplomasi

Sebagai penutup, HARI mendesak semua pihak yang terlibat untuk segera menghentikan aksi militer dan kembali ke meja perundingan guna mencegah krisis yang lebih luas.

“Perdamaian harus menjadi pilihan utama. Dunia tidak membutuhkan perang baru, melainkan komitmen bersama untuk menjaga kemanusiaan,” kata Bachtiar.

Di akhir kata Bachtiar Selaku KETUA UMUM LSM HARI menghimbau Masyarakat Indonesia utk memboikot seluruh produk Amerika & Israel atas prilaku pelanggar HAM di Dunia & meminta PBB segera mengadili DONALD TRUMP & Netanyahu Sebagai Pemimpin yg HAUS DARAH dan PEMBUNUH di belahan dunia ini.(cil) *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *