De14dotcom, MEDAN – Di tengah hiruk-pikuk skena musik Kota Medan yang kompetitif, muncul satu nama yang mulai mencuri perhatian di sirkuit live music dari kafe ke kafe: Eko Situmeang. Akrab disapa dengan nama panggung Eko Nada, penyanyi asal Pematangsiantar ini sedang menapaki jalan sunyi solois, membawa ambisi besar yang dibalut dengan kerendahan hati.
Jejak Langkah dari Siantar ke Kota Ketiga
Perjalanan Eko bukanlah sebuah kesuksesan semalam. Ia mulai mengasah vokalnya sejak tahun 2013 di Kota Siantar. Namun, dorongan untuk mengeksplorasi cakrawala yang lebih luas membawanya hijrah ke Medan pada tahun 2021. Perpindahan ini bukan sekadar urusan domisili, melainkan sebuah pertaruhan untuk mengubah nasib dan memperlebar jejaring di industri musik Sumatera Utara.
Terinspirasi Sang Legenda, Glenn Fredly
Secara musikalitas, Eko tidak menutupi bahwa arah kompasnya sangat dipengaruhi oleh mendiang Glenn Fredly. Pengaruh sang legenda tercermin dari cara Eko membawakan lagu dan membangun koneksi dengan penonton.
”Harapan saya, karir yang saya bangun ini setidaknya bisa memiliki semangat dan dampak yang sama seperti almarhum Glenn,” ungkapnya dengan nada optimis.
Tantangan Kreativitas: Antara Reinterpretasi dan Album Solo
Meski rutin menghibur audiens—terutama dari kalangan Gen Z—dengan playlist lagu kekinian yang diiringi petikan gitarnya, Eko menyimpan kegelisahan kreatif yang mendalam. Cita-cita besarnya tetap satu: merilis sebuah album solo. Namun, ia mengakui bahwa proses penciptaan karya orisinal memiliki tantangan tersendiri.
”Pernah dulu bawa lagu ciptaan kawan, tapi belum puas karena aku belum bisa ciptakan lagu sendiri bang. Susah juga ternyata ciptakan lagu,” ujar Eko sembari tertawa lepas, menunjukkan sisi jujur dari seorang seniman yang masih terus belajar.
Menatap Masa Depan
Saat ini, Eko Nada terus konsisten bergerak di jalur independen. Dari satu panggung kafe ke panggung lainnya, ia tidak hanya sekadar bernyanyi, tetapi sedang menabung memori dan jam terbang demi mewujudkan impian album yang sudah dinantikannya sejak satu dekade lalu. Di antara riuh rendah suara pengunjung kafe, Eko Nada tetap fokus menjaga ritme mimpinya agar tidak pernah pudar.(cil) *







